Feeds:
Tulisan
Komentar

cimg0014.jpg

 

Denah ejipEast Jakarta Industrial Park (EJIP) is one of the most sophisticated and successful industrial parks in Indonesia. Located on Cikarang, Bekasi. 25 miles (40km) from Jakarta City, 44 miles (70km) from Jakarta Airport and 28 miles (45km) from Jakarta port.

Didalam kawasan inilah terdapat  Sentral Telepon Otomat guna memenuhi Provider Network Element di dalam kawasan tersebut serta sepanjang jalan Cikarang – Cibarusah sampai dengan pasar Serang, yang mana mempunyai kapasitas 5.000 sst yang baru terpasang berkisar 2.700 sst mempunyai 5 RK, 3 diantaranya didalam kawasan dan 2 berada diluar kawasan, selain DCL (Daerah Catuan Langsung) antara lain : Pengelola Kawasan EJIP, PT EPSON dan PT SAMSUNG.

STO tersebut memang sangat kecil bisa dibilang mini, akan tetapi Revenu dari STO sangatlah memberikan kontribusi yang patut diperhitungakan bagi PT Telkom , maka dimulai dari tindakan personil administrasi Arnet Bekasi dengan mengadakan  Kontrak Perjanjian Pekerjaan Perbaikan Gedung STO EJIP dengan nomor kontrak : K TEL.309/HK.810/DIT –R316/2011 dengan nominal yang tidak begitu besar mengingat dalam hal ini adanya Cost Optimise dalam program PT Telkom Logo ejip

Alhasil terlihatlah bersih dari bagian luar serta terlihatlah logo baru PT Telkom dalam mensosialisaikan kepada seluruh pelanggan PT Telkom, belum puas hanya dengan pengecatan dan perbaikan atap yang bocor saja maka diajukan untuk penggantian vinil yang sudah kusam dan rusak  mengganti dengan pemasangan granit dan perbaikan kunci – kunci ruang perangkat di dalam STO tersebut, dalam waktu yang singkat ternyata woooow……..sungguh kinclong sekali STO ini, melihat kondisi ini rekan-rekan DIVA dan DCS pun merasa nyaman dalam menempati ruangan ini,, tak lupa pula ruang pos Satpam juga ikut di rapihkan, begitulah pelayan insan Infratel  kepada pihak lain.

Mendengar akan hal ini pihak rekan-rekan DIVES (AM wilayah kawasan EJIP) yang menempati kantor pengelola kawasan  EJIP(mengontrak) berminat  segera pindah di STO ini, wah….wah… ini jelas selain cost optimise juga tertuang dalam core values : 5 C antara lain : Costumer First yaitu : “Selalu mengutamakan pelanggan terlebih dahulu baik pelangan external maupun pelanggan internal”

Semoga aktivitas Arnet Bekasi yang di dukung  dari Netre Jakarta ini benar–benar memberikan kontribusi yang nyata   untuk periusahaan yang kami cintai ini dan semakin jayalah PT Telkom amiin……………(by : Nuridin/680576)STO Ejip_1

CIMG0014Sentral Telepon Otomat (STO) diwilayah kecamatan Babelan kabupaten Bekasi Jawa Barat mengalami musibah dengan kejadian robohnya pagar pada bagian belakang kantor yang diakibatkan labilnya tanah diwilayah sekitar STO tersebut. 

Peristiwa tersebut berawal pada akhir bulan Mei, tepatnya pada hari Selasa 24/5/2011 sekitar jam 18.00 WIB. Petugas Unit Security & Safety Area Bekasi (USAS) yang bernama  Sobari / NIP. 21672 , mendengar suara gemuruh yang keras dibelakang gedung STO.

Mendengar hal tersebut ,  maka dengan sigapnya petugas tersebut mengecek tempat kejadian dari sumber suara itu,  dan setelah dilakukan pengeceken tempat kejadian, …. Ternyata  tembok di belakang STO Babelan runtuh  akibat pondasi pagar tersebut longsor.

 Usai melakukan pengecekan , diketahui kondisi tanah disekitar halaman  STO tersebut sangat labil. Konon  lahan tempat berdirinya STO tersebut dahulunya adalah  area persawahan, dan ada perbedaan ketinggian yang sangat signifikan, antara lahan halaman dengan lahan yang berada diluar halaman belakang serta bagian kanan dan kiri dari STO tersebut,  selain itu kondisi pondasi batu kali yang sudah sekian lama terkikis oleh air hujan, serta panasnya matahari.

Setelah kejadian  tersebut  petugas patroli USAS Area Bekasi  langsung berdatangan ke STO untuk melakukan keamanan tempat kejadian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

CIMG0031

Mendengar  kejadian tersebut  Manager Arnet Bekasi Bambang Triwidodo langsung mengunjungi tempat kejadian di STO Babelan dan meminta kepada jajarannya  untuk segera  melakukan tindakan perbaikan sementara.

Agar kondisi tersebut dapat lebih aman dan kondusif, maka dilakukan perbaikan, dengan cara menutup pagar yang runtuh dengan memakai pagar seng dan kayu kayu sekitar sepanjang 10 meter dengan ketinggian 1,5 meter. Selain itu juga dilakukan  menyingkirkan pondasi batu-batu kali yang runtuh dan menutupi  parit-parit guna memperlancar jalanya air yang melewati parit tersebut , hal ini dilakukan untuk menghindari komplain dari penduduk yang bertempat tinggal di belakang STO tersebut.

Atas kejadian  tersebut petugas Administrasi AreaNetwrok (Arnet)  Bekasi melaporkan kejadian kepada jajaran rekan-rekan Network Regional (Netre) Jakarta, dan segera memproses Kontrak Perjanjian Renovasi Pondasi dan Dinding Pagar yang berada di Belakang STO Babelan dengan nomor kontrak K TEL 461/HK/DIT-R316/2011 tertanggal 18/10/2011.

CIMG0261

Dalam waktu sebulan pekerjaan perbaikan pagar tersebut selesai dilakukan. Kini tembok yang lebih kuat dan kokoh sudah terlihat,  semoga  hal ini dapat menambah citra PT Telkom yang cepat menangani hal ini, mengingat  kondisi sekitar adalah rumah penduduk. (by : Nuridin /680576)

Silsilah Keluarga WARID NURAIN

Aku bercerita

CIMG0809

Usai shalat maghrib di penghujung  Ramadhan  tahun 1433 Hijriah, atau bertepatan pada pertengahan Agustus tahun 2012. Hampir setahun sudah tidak terasa, kini sudah masuk di pertengahan sya’ban, dan tinggal menghitung hari untuk memasuki kembali bulan yang penuh berkah dan maghfirah ini, yaitu Ramadhan. Pada saat itulah aku mengutarakan maksud dan keinginan untuk pulang ke kampung halaman yang insya allah akan berangkat sehari setalah lebaran kepada istri dan anak-anak.

Tentu saja anak-anak bergembira, walaupun tidaklah tampak di wajah mereka, sebab mereka sedang asik berbuka puasa. Dede adalah panggilan untuk anak bungsuku, yang saat itu barulah berusia enam tahun. Ammar Abiy Aufa, itulah nama yang aku berikan kepadanya. Walaupun belum berpuasa tetap saja ia bersemangat untuk berbuka puasa, sedangkan anakku yang kedua dengan panggilan Abang tetap tenang menikmati gorengan dengan krupuk mie sambil menonton acara televisi, dia aku beri nama lengkap Faris Muhammad Rafiq. Adapun Kakak panggilan untuk anakku yang pertama paling senang menggoda Dede, sehingga tampak sesekali timbul kericuhan kecil, sehingga suasana menjadi sedikit ramai. Dheya Amirah Qodri itulah nama lengkap anakku yang  pertama saat ini hendak masuk kuliah, wanita yang cantik seperti ibunya ini, memang senang menggoda Dede, adiknya itu, katanya ”kalau tidak puasa ya di kamar saja pada saat berbuka jangan menggangu orang yang sedang berbuka”,  tentu saja hal ini membuat geram si dede. Itulah keramaian di keluargaku saat bulan Ramadhan ketika hendak berbuka puasa sampai hendak shalat isya dan tarawih, di situlah keceriaan yang selalu aku rindukan.

Malam mulai pergi menjemput pagi. Langit di ujung cakrawla kini tak gelap lagi, ia telah memancarkan warna kemerahan dalam balutan gradasi warna yang begitu indah. Paduan warna yang tergambar jelas dan nyata, memantapkan pesan kekuasaan-Nya, melalui kumandang azan subuh yang mulai terdengar bertalu-talu dari beberapa masjid. Panggilan Allah Sang Maha Pencipta membuatku segera bangkit untuk melaksakan shalat subuh secara berjama’ah usai setelah hari lebaran pertama itu.

”Dede… bangun de…” Ucap Bundanya membangunkan si bungsu yang memang masih tergolong sulit untuk bangun pagi.   Hari ini kita akan berangkat ke jawa , ucap Kakak sambil merapihkan jilbabnya. Tak lama pun, Dede bangun karena mendengar ucapan Kakak, langsung saja ia berlari menuju kamar mandi, melihat hal itu maka aku pun yang sudah pulang dari masjid langsung membantunya untuk memandikan Dede, takut kalau tidak bersih dan lupa gosok gigi. Pukul enam pagi, semua anggota keluargaku pun  sudah rapih dan siap untuk berangkat, aku pun bersegera menghidupkan mobil dan memanaskannya yang tidak terlalu lama,  karena aku sekeluarga mempunyai janji untuk berangkat bersama saudaraku yang lainya, maklum mereka tidak punya kendaraan sendiri.

Janji untuk bertemu di depan tugu  Harapan Indah itu, akhirnya dapat kami laksanakan, walaupun mereka telah menunggu sekitar sepuluh menit yang lalu. Saudaraku ini yang biasa aku panggil  Mas Puji, dia dapat memakluminya untuk keterlambatanku ini. Mereka biasa ikut numpang untuk pulang kampung, karena ibunya yang tidak lain sepupu dari almarhum ayahku ini,  dan alhamdulillah masih dalam kondisi sehat di kampung halamannya walaupun sudah lanjut usia.

Selama dua jam aku mengemudi dari Bekasi yang kini sudah berada di Cikampek, aku pun mampir di rumah anaknya Mas Puji, yang bekerja di Departemn Agama kini baru di karunia satu putri , itupun atas keinginan Mas puji yang ingin bertemu dengan anak dan cucunya. Aku sekeluarga disambut hangat oleh mereka dan disediakan sarapan pagi. Sepertinya inilah  buah dari bersilahturahim, selain di panjangkan umurnya dan diberikan keluasan rezki oleh Allah Swt.  Alhamdulillah, selain perut kenyang aku pun merebahkan diri di mushalah pribadinya, maklum rumahnya cukup luas sehingga bisa mempunyai mushala di dalam pekarangan rumahnya.

Tepat pukul sepuluh lewat tiga puluh menit aku pun melanjutkan perjalanan melaui pantura yang kondisinya sudah tidak macet, memang itulah siasatku kalau mudik sehari setelah lebaran saja untuk menghindari kemacetan, setelah melewati TOL Kanci dan Pejagan aku pun kembali beristirahat untuk menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar yang aku jama qasar, bersama keluarga di sebuah masjid di wilayah Brebes, setelah selesai isoma aku melanjutkan perjalanan, jabatan sopir pun diambil alih oleh anaku  Abang. Walaupun masih duduk dibangku kelas dua SMP, akan tetapi ia sudah mahir mengendarai kendaraan, tentu saja aku tak lupa mengingatkan untuk tidak terlalu cepat dalam mengendarai mobil,  karena masih terlalu muda dan belum memlilki sim.

Kumandang azan Maghrib pun terdengar, bersamaan dengan tibanya aku sekeluarga di Pekalongan, susana pun menjadi haru ketika  ibunya Mas Puji dan adik-adiknya hendak menunaikan shalat maghrib berjamaah di surau,  yang tepat berhadapan dengan  rumahnya, akupun turut haru ketika mas puji sungkem dengan orang tuanya, dan ikut sungkem pula dengan mereka. Setelah dua malam di Pekalongan, pagi  harinya aku mohon pamit kepada Mas Puji dan ibunya untuk melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk berlbur, hal ini aku lakukan karena Dede belum pernah melihat keramaian kota Yogyakarta , sebab sepuluh tahun yang lalu, dia belum lahir saat aku sekeluarga berlibur ke kota gudeg tersebut.

Melalui jalan Waleri dan Temanggung, kami mulai masuk menuju kota Yoygakarta, setelah melewati Magelang. Perjalanan yang cukup melelahkan, akan tetapi tidaklah membuat mataku ngantuk. Karena bagaiamana mau ngantuk, kondisi jalan yang berliku-liku itulah yang menyebabkan mengendarai kendaraan menjadi tidak ngantuk, hal ini tentu saja berbeda dalam mengendarai kendaraan di jalan TOL atau jalur Pantura yang hanya datar saja, sehingga membuat jenuh dan mudah diserang ngantuk.  Saat memasuki wilayah Yogyakarta kendaraan semakin padat dan menyebabkan kemacetan.

Tepat pukul delapan malam aku barulah sampai di salah satu hotel dekat daerah kraton. Begitu terperangahnya aku, ketika hendak chek in hotel, yang tergolong biasa saja namun harganya tinggi sekali. ”Apa ini harga sebenarnya ?”, tanyaku kepada pelayan hotel, melihat kekesalanku ini, pegawai hotel tersebut berbisik menjawab pertanyaan ku, ”tidak pak!. Ini tarif lebaran !”. Masya Allah, inilah kelakuan para pengusaha  hotel di negeri kita, aji mumpung untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Akupun langsung bergegas keluar untuk mencari hotel yang lain, maklum kondisi saat ini sudah berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu saat aku datang ke Yogya. dulu, aku hanya perlu menyewa satu kamar, akan tetapi sekarang ini, aku harus menyewa dua kamar, sebab anakku sudah besar dan dewasa.

Setelah mencari kesana dan kemari, akhirnya aku mendapatkatkan penginapan yang lebih murah dari penginapan sebelumnya, walaupun tarifnya  yang memang sudah dinaikan juga dari seperti biasanya. ”Ah sudahlah”, gumamku dengan nada jengkel. Istri, anak-anak dan aku pun mandi dan shalat, setelah berada di kamar hotel. Setelah mandi dan shalat, aku sekeluarga menikmati keramaian malam di jalan Malioboro, aku pun ikut hanyut dalam keramaian kota Yogya ini. Makan malam dan jajanan yang disediakan oleh para pedagang yang berada di pinggiraan jalan Malioboro begitu menggugah selera. Suasana sangatlah menyenangkan  dan membahagiakan keluargaku. Hari semakin larut, kutengok arlojiku sesaat, ketika istri dan anak-anaku sedang berfoto di keramaian jalan Malioboro, tak terasa hari telah berganti, jam sudah menunjukan pukul satu pagi. Segera aku mengingatkan istri dan anak-anaku untuk kembali ke hotel untuk beristirahat.

2012-08-21 23.39.22

Setengah jam perjalanan dari Malioboro akhirnya aku sekeluarga sampai di hotel. Setelah sampai, langsung kurebahkan badanku untuk beristirahat, tak lupa aku ingatkan istriku untuk menyalakan alarm hp agar tidak ketingglan waktu subuh. Keesokan harinya setelah subuh, aku dan anak-anakku kembali tidur. Karena badanku terasa pegal dan mata masih terasa ngantuk.  Tepat jam sembilan,  aku sekeluarga sepakat untuk melanjutkan jadwal liburan ke tempat wisata lainya.

Hari kedua, suasana pagi yang telah menjelang siang di Yogya ini cukup panas, sekitar pukul setengah sebelas, aku sekeluarga pergi ke kraton. Usai melihat-lihat dalamnya keraton, aku pun memutuskan untuk pergi ke Borobudur yang berada di kabupaten Magelang, setelah memasuki wilayah Borobudur, aku pun mencari penginapan, dan alhamdulillah aku menemukan hotel yang bernama Borobudur Hotel yang harganya jauh relatif lebih murah serta lebih bagus tempat dan suasananya.. Sepertinya pemiliknya tidak menaikan tarif seperti hotel hotel di Yogya.

Usai menjalankan shalat Maghrib di Borobudur Hotel Abang mendadak mengalami panas yang begitu tinggi. Hingga akhirnya Bundanya mengobati dengan cara Tradisional, di pijat serta di kerik. Alhamdulillah keadaan Abang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Setelahku tanya apa yang Abang rasakan, Abang menjawab, ”rasa tidak enak di perut”. Lalu aku mengajak keluar keluarga untuk makan malam. Aku mengajak keluargaku makan tongseng yang kelihatannya enak. Dan ternyata aku tidak salah menduganya, rasanya memang nikmat dan tidak kalah nikmat dengan tongseng-tongseng yang ada di Jakaarta, harganya pun terbilang murah. Namun, makanan senikmat itu tidak dapat membuat nafsu makan Abang menjadi lebih baik. Lalu aku sekeluarga kembali ke hotel setelah merasa kenyang. Aku sekeluarga segera beristirahat untuk persiapan esok pagi yang di sepakati untuk pergi ke Borobudur, karena bila sudah siang akan terasa panas, begitulah tutur pemlik hotel.

Saat pagi hari, Alhamdulillah keadaan Abang jauh lebih baik dari semalam. Sekitar pukul enam lebih tiga puluh menit aku sekeluarga meninggalkan hotel dan pergi ke Borobudur. Suasana di Borobudur masih tampak sepi. Udara di Borobudur terasa sangatlah sejuk, airnya pun terasa sangat dingin, karena Borobudur bertempat di pegunungan, jadi, wajar saja bila kondisinya seperti itu. Setelah masuk kedalam Borobudur, aku sekeluarga di wajibkan memakai kain batik  yang sudah di sediakan oleh petugas Borobudur, namun kain tersebut tidak lah wajib bagi yang umurnya di atas sepuluh tahun, dan juga banyak tempat-tempat yang tidak boleh untuk dinaiki, tentu saja di jaga ketat oleh pihak keamanan Borobudur. Namun, masih saja banyak yang melanggar peraturan-peraturan yang telah di buat. Tetapi, masalah kebersihan sangatlah jauh berubah dengan keadaan sepuluh tahun yang lalu. Sebab, pedagang asongan kini sudah tidak lagi di perbolehkan memasuki wilayah dalam Borobudur. Disana aku sekeluarga berfoto dan menonton film tentang  meletusnya Gunung Merapi.

Setelah puas mengelilingi Borobudur, aku sekeluarga berangkat pulang menuju Pekalongan, Namun aku dan keluarga mampir untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Pekalongan.  Tampak kondisi Abang sudah sangatlah baik. Setelah tiga malam di Yogya dan Borobudur, yang di jadwalkan seharusnya bisa lebih dari seminggu akhirnya aku dan keluargaku kembali ke rumah Mas Puji. Aku sekeluarga tiba di rumah Mas Puji sekitar pukul tujuh malam. Namun, setibanya di rumah Mas Puji, Abang merasa tidak enak badan lagi. Aku dan Abang langsung menuju ke dokter untuk memeriksa kesehatan Abang. Menurut dokter Budi, dari hasil diagnosanya Abang menglami gejala tipes. Selain memberi obat, dokter juga tak lupa menyarankan untuk periksa ke rumah sakit besar. Lalu aku dan Abang pun kembali kerumah Mas Puji. Abang pun langsung meminum obatnya dan beristirahat. Saat tengah malam, dimana orang-orang sudah sibuk dengan alam mimpinya, aku mendengar Abang merintih kesakitan. Segera saja aku menghampirinya dan ternyata setelah aku sentuh tanganku ke tubuh Abang, panas badannya tinggi sekali, akan tetapi dia malah menggiggil kedinginan. Langsung aku bangunkan istriku dan menyuruh untuk mengompres Abang dengan air dingin dengan harapan kondisi Abang bisa menjadi lebih baik. Dalam kondisi panik itu istrku menyarankan ”pak esok pagi bawa saja kerumah sakit”, aku pun mengangguk sambil mencari rumah sakit di daerah ini dengan mendwonload hp ku, dan alhamdulillah ada dua rumah sakit  kutemukan yang  kerjasama, atau pks dengan perusahaanku.

Tak lama kudengar azan subuh berkumandang dengan keras sekali, tampak jelas suara kakek-kakek melantunkan azan dan syalawat di surau yang berhadapan dengan rumah mas puji ini,  seluruh penghuni rumah pun berdatangan ke surau baik laki-laki ataupun wanita. Istriku pun turut sholat pula, padahal dirumah dia tidak pernah berjamaah di masjid, sebab disini sudah menjadi tradisi untuk sholat di surau baik laki maupun wanita, sehingga surau menjadi ramai. Usai sholat aku bermunajat pada Allah Swt., agar Abang segera dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritannya. Kondisi Abang masih saja panas tinggi, ”sudah sholat subuh bang?” aku bertanya sambil melihat Abang yang berbaring di tempat tidur, ”ia pun mengangguk, ”tidak usah wudhu bang, kalau lagi seperti ini, cukup tayamum saja !”. Ungkapku lebih lanjut, dan Abang kembali mengangguk,

Setelah matahari tampak mulai meninggi dari ufuk timur, aku segera bergegas untuk pergi ke rumah sakit Budi Rahayu di jalan Barito nomor 5 Pekalongan Utara.  untuk membawa anaku, Abang  yang kondisi suhu badanya masih panas tinggi tampak sangat lemas dan sesekali merintih memegang perutnya yang mungkin terasa tidak enak. Sesampainya di rumah sakit tersebut langsung saja suster IGD  melayani dengan sangat cepat dan aku pun disuruh mengurus administrasinya, karena aku menunjukan kartu kesehatan anaku  dari perusahaan tempat aku bekerja, ”begitu cepat dan bagusnya pelayanan rumah sakit ini”, tuturku dalam hati  walaupun tidak sebagus bangunannya yang sudah tua, ”hmmm.” gumamku. Mungkin ini yang di rekomendasikan dari mas puji karena ”kalau ke rumah sakit Siti Khadijah Pekalongan kurang begitu cepat pelayananya”, tutur saudarku itu, saat aku mau berangkat ke rumah sakit. Itulah kenyataan yang ada, walaupun rumah sakit Budi Rahayu di bawah yayasan Santa Maria Pekalongan.

Aku pun duduk sejenak, menikmati suasana selasar rumah sakit yang terbilang cukup sepi,  di bandingkan kondisi rumah sakit  yang berada di Jabodetabek, ” masih sejuk pula udaranya gumamku dalam hati” sambil menunggu layanan adminstrasi, tiba-tiba seorang suster menghampiriku, ”permisi pak, bapak ayahnya Faris?, dokter memanggil bapak untuk bicara didalam”. Aku segera mendatanginya, ketika bertemu dengan dokter akupun menyapanya ”selamat siang dok!”, dokter pun mengangguk dan berkata ”sebaiknya anak bapak beristirahat di rumah sakit , minimal seminggu agar cepat sembuh, sebab anak bapak terkena tipes,” aku terperangah tidak bisa menjawab perkataan dokter dengan langsung, ” begini dok, bukanya anak saya tidak mau di rawat, saya tinggal di Bekasi, disini saya hanya berlibur, bagaimana kalau dirawatnya di Bekasi saja agar saya tidak terlalu repot” jawabku, sambil mencoba menjelaskan tentang kondisiku ini. Dokter pun tidak langsung menjawab penjelasanku ini, dia asik saja menulis resep yang akan diberikan ke anak ku ini, ”bapak hendak opname dimana?, sebab penyakit ini harus banyak istirahat ”  kata dokter kembali, ”saya akan bawa pulang ke Bekasi saja dok, dirawat di sana di rumah sakit Mitra Bekasi ”jawabku. ”Ini bawa suratnya, dan tebus dahulu resepnya”. Tutur pak dokter kembali

Akupun segera menelpon istriku untuk memberitahu kondisi Abang, dan ku putuskan untuk segera kembali ke Bekasi, ”dan tolong beri tahu mas puji ya bun kalau mau ikut kembali ke Bekasi”, ungkapku via telepon. Selang beberapa saat hp ku berdering kembali, mas puji menelponku, dia kaget akan keputusanku untuk segera balik ke Bekasi, lalu kucoba jelaskan, dan akhirnya sepakat untuk besok pagi-pagi kembali ke Bekasi, walau sebenarnya dia masih ingin berlama-lama di rumah ibunya.

Liburan yang semestinya dapat ku nikmati, dengan waktu yang cukup  luang di kampung halaman dan berlibur, untuk saat ini tidak dapat.  aku dan keluargaku belum merasakan dengan maksimal, walaupun hal ini telah aku rencankan jauh-jauh hari sebelumnya,  untuk mengajukan cuti setelah lebaran yang begitu cukup lama. Tapi kini anak ku tengah menderita sakit tipes dan perlu perawatan secara serius. Aku berusaha untuk berbaik sangka pada Allah Swt. Mungkin ada hikmah yang tersebunyi, yang tidak dapat kuketahui di balik semua ini,  kulihat keramaian di bagian dapur rumah yang menjadi ciri khas di rumah ini, yaitu selalu ramai di dapur di banding ruang lainya, sebab dapurnya cukup luas untuk dapat bersenda gurau dan menikmati sarapan, makan siang ataupun makan malam, dalam kesehariaannya. Tampak kesibukan pagi ini keluarga dari ibu mas puji, turut membantu dan menyiapkan makanan, agar aku dan keluarga yang hendak pulang ke Bekasi secara tiba-tiba ini selamat sampai tujuan,” semoga saja  dapat dilalui  dengan baik dan tidak ada terjadi apa-apa di jalan, kata ibunya mas puji dalam bahasa jawa yang kurang begitu aku pahami, sebab ia memang tidak bisa berbahasa jakarta, maklumlah orang tua zaman dulu.

Jam delapan pagi aku meninggalkan kota Pekalongan untuk kembali ke Bekasi, dan ternyata sampai di rumahku  jam empat lebih tiga puluh menit, bertepatan waktu subuh, masya Allah macetnya arus balik ini,  luar biasa, saat itu yang memang sudah aku ketahui, sebab aku merencanakan  dua minggu setelah lebaran agar lebih lowong di jalan, tapi apa boleh buat, hal ini aku lakukan karena kondisi anaku yang sakit, dan juga aku sering beristirahat di jalan untuk mengetahui kondisi anaku ini setiap saat. Selang hanya beberapa jam untuk tertidur, dan belum cukup puas untuk beristirahat, aku harus mengantarkan anaku ke rumah sakit MitraKeluarga, sedangkan istriku tetap di rumah untuk mengurus si Dede dan si Kaka, agar  dapat beristirahat lebih lama.

CIMG0915

Di rumah sakit langsung di bawa ke ruang UGD, lalu diperiksa dan ku perlihatkan surat dan hasil laboraturium dari rumah sakit Budi Rahayu Pekalongan, dan langsung mendapatkan kamar untuk menjalani rawat inap. Tiga hari lamanya menjalani rawat inap dan alhamdulillah  kondisi Abang mulai terlihat sehat, dan meminta untuk pulang ke rumah, dia mengutarakan kepadaku , dan aku mengutarakan kembali ke dokter yang menangani anaku ini, dokterpun membolehkannya asal di rumah masih harus banyak istirahat,” sebab penyakit ini infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang pada aliran darah yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B dan C, selain ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (keracunan makanan). Kuman tersebut masuk melalui saluran pencernaan, setelah berkembang biak kemudian menembus dinding usus menuju saluran limfa, masuk ke dalam pembuluh darah dalam waktu 24-72 jam. Kemudian dapat terjadi pembiakan di sistem retikuloendothelial dan menyebar kembali ke pembuluh darah yang kemudian menimbulkan berbagai gejala klinis”. Begitulah dokter Herman spesialis penyakit dalam,  menjelaskan secara rinci kepadaku yang tidak lain sudah menjadi langgananku bilamana aku berobat di rumah sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat.

Senang rasanya dapat melihat keluarga berkumpul kembali, walaupun liburan pada lebaran kali ini mendapat cobaan, akan tetapi sudah dapat kembali semua anggota keluarga dengan selamat, merupakan keberkahan terhadap diri dan keluargaku ini, sebab keluarga adalah segalanya bagi diriku. Untuk lain waktu aku tidak akan berlibur di hari lebaran, karena macet dimana-mana, serta terlalu padatnya tempat wisata di kunjungi banyak orang, sepertinya lebih baik saat libur semester anak-anak sekolah saja, dan semoga Allah memberikanku kekuatan serta kesehatan, sehingga aku selalu dapat membahagiakan keluarga ku ini, amiin.

CIMG0775

Abdul Malik Ghozali

Mu`awiyah bin al-Hakam as-Sulami menuturkan,“Ketika aku mendatangi Rasulullah Saw, aku diajarkan masalah-masalah agama Islam, diantara hal-hal yang diajarkan adalah,“Apabila engkau bersin maka ucapkanlah “al-hamdulillah”. Jika seorang bersin lalu ia bertahmid maka balaslah dengan mengucapkan “yarhamukallah” . Beberapa waktu kemudian, ketika aku shalat bersama Rasulullah Saw tiba-tiba seseorang bersin dan mengucapkan tahmid, maka aku mengucapkan “yarhamukallah” dengan suara keras, maka orang-orang di sekitar mengarahkan pandangan kepadaku, hingga aku tersinggung dan berkata, “Mengapa kalian menatapku dengan mata marah?” Mereka hanya membalas dengan tasbih. Seusai shalat, Rasulullah Saw bertanya, “Siapa yang bicara tadi?” Orang-orang menunjukku, “Orang badwi ini.” Rasulullah Saw memanggilku dan berkata,“Sesungguhnya dalam shalat itu hanya dibolehkan membaca al-Qur’an dan zikrullah (kalimat thayyibah), maka jika kamu tengah mengerjakan shalat hendaklah demikian!” Belum pernah aku melihat seorang guru yang lebih ramah dari Rasulullah SAW.” (H.R. Muslim dan Abu Daud) Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.